Monday, June 8, 2015


Berita Ternate - Batu bacan termahal dengan motif rajawali bekisar satu hingga dua miliyar. Batu Obi adalah jenis batu akik atau permata asal pulau obi Halmahera Maluku Utara berkualitas dan memiliki potensi besar sebagai permata berkualitas internasional, mengingat batu permata yang dihasilkan dari penambangan masyarakat setempat saat ini.
bacan obiDengan demikian jika batuan mulia yang saat ini banyak ditemukan masih berupa kulit dari batuan mulia, berarti ada inti batu mulia obi yang berkualitas sangat baik sehingga berpotensi besar untuk menjadi salah satu batu mulia primadona dipasaran internasional.

Sebenarnya saat ini jenis batu ini telah menjadi incaran banyak kolektor manca negara bahkan harga batu obi telah mengalami kenaikan walaupun masih belum mengalahkan jenis batu bacan doko yang seringkali menjadi incaran banyak penghobi

Batu Bacan Termahal Motif Rajawali

Thursday, June 4, 2015


JAKARTA (Panjimas.com) – Aktris dan penulis, Oki Setiana Dewi berpendapat bahwa seorang ibu harus pintar agar bisa mendidik anaknya. “Ibu adalah madrasah pertama anak,” kata Oki di Jakarta beberapa waktu lalu (13/1/2015).
Seperti diketahui bersama, aktris yang membintangi sejumlah film, salah satunya adalah film “Ketika Cinta Bertasbih” itu melahirkan anak pertamanya, yang diberi nama Maryam Nusaibah Abdullah pada bulan lalu.
Menurut Oki, jauh sebelum ia menikah dengan pengusaha Ory Vitrio, ia kerap membaca sejumlah buku bertema keluarga untuk belajar, dan agar dirinya bisa menjadi orang tua yang baik dan benar bagi anak-anaknya.
“Masa mendidik anak sebenarnya dimulai sejak kehamilan”, jelas Oki yang kini sedang mengambil Master bidang Pendidikan Usia Dini di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu.
“Saya harus berhati-hati dalam bersikap, berkegiatan,” imbuh Oki.
Untuk itu, jelas Oki, seorang ibu harus tetap terus belajar menjadi orang tua dengan cara rajin membaca buku dan bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman. “Cari info terbaru tentang menjadi orang tua. Jadi ibu yang pintar,” tandasnya. [GA/Ant]

Ibu Merupakan Madrasah Pertama Bagi Anak


PANJIMAS.COM – Allahu akbar,  Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah melegakkan hati  kaum mukminin dan memberikan pelipur  lara hati kaum muslimin, dengan tewasnya 11 penghina Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ya, menghina Rasulullah tidak seperti menghina manusia lainnya, menghina Rasulullah sama saja dengan menghina Allah sebagai Dzat yang mengutusnya, dan juga berarti menghina Islam karena untuk menyampaikan risalah in beliau diutus.
Maka berdasarkan dalil-dalil qath’I dari Al-Quran dan As-Sunnah, para pencela Rasulullah adalah kafir murtad, Jika demikian, sangat wajar apabila umat Islam bangkit berdiri memprotes dan melawan para pencela Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ
“Jika mereka merusak sumpah (janji)-nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (QS. At-Taubah: 12)
Dalam ayat di atas, Allah menyebut orang yang mencerca agama sebagai gembong kekafiran. Tentu saja predikat ini lebih buruk dari sekedar kekafiran belaka.
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah menjuluki mereka sebagai gembong kekafiran dikarenakan cercaan mereka terhadap agama. Maka pastilah, bahwa setiap orang yang mencerca agama adalah gembong kekafiran.” (Ash-Sharimul Maslul, Ibnu Taimiyyah, hlm. 17, 512, 546) –
Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan dalam tafsirnya, “dari ayat ini diambil dasar hujjah (argumentasi) untuk membunuh orang yang mencerca Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, atau orang yang mencerca agama Islam atau mencelanya.”
Adapun dalam As-Sunnah, dari Ibnu Abbas radiallahu ‘anhuma.
أَنَّ أَعْمَى كَانَتْ لَهُ أُمُّ وَلَدٍ تَشْتُمُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَتَقَعُ فِيهِ فَيَنْهَاهَا، فَلَا تَنْتَهِي فَلَمَّا كَانَ ذَاتَ لَيْلَةٍ أَخَذَ الْمِعْوَلَ فَجَعَلَهُ فِي بَطْنِهَا وَاتَّكَأَ عَلَيْهِ فَقَتَلَهَا فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَقَالَ أَلَا اشْهَدُوا، فَإِنَّ دَمَهَا هَدَرٌ.
“Ada seorang buta mempunyai ummu walad (budak perempuan yang memiliki anak dari majikannya) yang selalu memaki dan mencela Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lelaki tadi melarangnya namun tidak berhenti , maka pada suatu malam, orang buta tadi mengambil edang tipis, lalu ia letakkan diatas perut budak tadi, maka ia menindihnya dan tewaslah budak tadi, maka ketika berita itu sampai kepada Rasulullah, beliau bersabda, “”Saksikanlah oleh kalian semua bahwa darahnya tumpah sia-sia.”  (HR. Abu Dawud dan para perawinya tsiqat).
Imam Shan’ahi mengatakan bahwa hadits ini dalil bahwa  penghina Rasulullah dibunuh, dan darahnya sia-sia. (Subulussalam 2/384)
Muadz  dan Muawidz bin Afra’, 2 remaja eksekutor Abu Jahal
Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu. seperti yang terdapat di dalam Shahih Al-Bukhari, menggambarkan sikap dan tindakan yang sangat ajaib dari kedua pemuda pemberani ini! Abdurrahman bin Auf menuturkan,
“Pada perang Badar, saya berada di tengah-tengah barisan para Mujahidin. Ketika saya menoleh, ternyata di sebelah kiri dan kanan saya ada dua orang anak muda belia- usia antar 12-14 tahun-. Seolah-olah saya tidak bisa menjamin mereka akan selamat dalam posisi itu.”
Kedua pemuda belia itu adalah Muadz bin Amr bin Jamuh dan Muawwidz bin Afra’ Radhiallahu ‘anhuma. Abdurrahman bin Auf sangat heran melihat keberadaan kedua anak muda belia ini di dalam sebuah peperangan yang sangat berbahaya seperti perang Badar. Abdurrahman merasa khawatir mereka tak akan mendapatkan bantuan atau pertolongan dari orang-orang di sekitar mereka berdua, disebabkan usia keduanya yang masih muda.
Beliau melanjutkan kisahnya dengan penuh takjub,
“Tiba-tiba salah seorang dari kedua pemuda ini berbisik kepada saya, ‘Wahai Paman, manakah yang bernama Abu Jahal?” Pemuda yang mengatakan hal ini adalah Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu Ia berasal dari kalangan Anshar dan dirinya belum pernah melihat Abu Jahal sebelumnya. Pertanyaan mengenai komandan pasukan kaum musyrikin, sang lalim penuh durjana di Kota Mekkah dan “Fir’aun umat ini”, menarik perhatian Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu. Lantas ia pun bertanya kepada anak muda belia tadi, “Wahai anak saudaraku, apa yang hendak kamu lakukan terhadapnya?”
Sang pemuda belia itu menjawab dengan jawaban yang membuat Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu tak habis pikir! Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Saya mendapat berita bahwa ia adalah orang yang pernah mencaci maki Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Allah yang jiwa saya dalam genggaman-Nya! Jika saya melihatnya, pupil mata saya tidak akan berkedip memandang matanya hingga salah seorang di antara kami terlebih dahulu meninggal.”
Abdurrahman bin Auf menuturkan, “Seorang pemuda belia yang lain (Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu) menghentak saya dan mengatakan hal yang serupa.” Lalu Abdrurahman melanjutkan kisahnya, “Tiba-tiba saja saya melihat Abu Jahal berjalan di tengah-tengah kerumunan orang ramai. Saya berkata, “Tidakkah kalian melihat orang itu ia adalah orang yang baru saja kalian tanyakan kepadaku!”
Melihat Abu Jahal, darah amarah kedua pahlawan belia ini pun membara. Tekad bulat mereka semakin mantap untuk merealisasikan tugas yang sangat mulia, yang senantiasa bergeliat dalam mimpi dan benak pikiran meraka.
Sekarang, mari kita simak bersama penuturan Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu ketika ia menggambarkan situasi yang sangat menakjubkan tersebut, seperti yang terdapat dalam riwayat Ibnu Ishaq dan di dalam kitab Ath-Thabaqat karya Ibnu Sa’ad.
Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Saya mendengar kaum musyrikin mengatakan, ‘tidak seorang pun dari pasukan kaum muslimin yang dapat menyentuh Al-Hakam (Abu Jahal)’.” Saat itu, Abu Jahal berada di tengah-tengah kawalan ketat laksana pohon yang rindang.
Abu Jahal, sang komandan terkemuka dari bangsa Quraisy datang dalam iring-iringan para algojo dan orang-orang kuat laksana hutan lebat. Mereka melindungi dan membelanya. Ia adalah simbol kekufuran dan komandan pasukan perang, sehingga sudah pasti jika pasukan batalyon terkuat di kota Mekkah dikerahkan untuk melindungi dan membelanya.
Di samping itu, kaum musyrikin juga saling menyerukan, “Waspadalah, jangan sampai pemimpin dan komandan kita (Abu Jahal) terbunuh!” Mereka mengatakan, “Tidak seorang pun musuh yang dapat menyentuh Abul-Hakam (Abu Jahal)!”
Meskipun Abu Jahal dilindungi sedemikian rupa dan pengawalannya begitu ketat, namun hal itu tak menghalangi Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu untuk tetap membulatkan tekadnya, melaksanakan tugasnya, serta merealisasikan cita-cita suci di dalam hidupnya.
Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Ketika saya mendengarkan perkataan itu, saya pun semakin membulatkan tekad. Saya memfokuskan diri untuk mendekatinya. Ketika tiba waktunya, saya langsung menghampirinya dan memukulkan pedang kepadanya hingga setengah kakinya (betis) terputus.”
Subhanallah! Hanya satu sabetan pedang dari tangan anak muda belia ini, betis seorang lelaki (Abu Jahal) putus dalam sekejap.
Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Pada perang itu (Badar), anaknya (Abu Jahal), Ikrimah -pada waktu itu ia masih musyrik – menebas lengan saya dengan pedangnya hingga hampir terputus dan hanya bergantung pada kulitnya saja.”
Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu melanjutkan kisahnya,
“Pada hari itu, saya benar-benar berperang seharian penuh. Tangan saya yang hampir putus itu hanya bergelantungan di belakang. Dan ketika ia menyulitkan saya, saya pun menginjaknya dengan kaki, lalu saya menariknya hingga tangan saya terputus.”
Ia justru memisahkan tangan dari jasadnya agar bisa mengobarkan jihad dengan bebas dan leluasa! Subhanallah! Lantas, di mana teman pesaingnya untuk membunuh si durjana dan si lalim kelas kakap itu? Di mana Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu?
“Lalu Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu melintas di hadapan Abu Jahal yang sedang terluka parah, kemudian ia pun menebasnya dengan pedang. Kemudian membiarkannya dalam keadaan tersengal-sengal dengan nafas terakhirnya.”
Maksudnya, Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu juga berhasil merealisasikan tujuan dan cita-citanya. Ia menebas Abu Jahal dengan pedang di kala ia berada di tengah-tengah kerumunan para pengawal dan pelindungnya. Namun, ia berhasil memukul Abu Jahal hingga membuatnya terjungkal ke tanah seperti orang yang tak berdaya, tetapi ia masih mempunyai sisa-sisa nafas terakhir. Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu datang untuk menghabisi nyawa Abu Jahal.
Lantas keduanya datang menjumpai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masing-masing mengatakan, “Saya telah membunuh Abu Jahal, wahai Rasulullah!”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka berdua sebagaimana yang terdapat di dalam riwayat Al Bukhari dan Muslim, “Apakah kalian telah menghapus (bercak darah yang menempel pada) pedang kalian?“ mereka berdua menjawab, “Belum.” Maka beliau melihat kedua pedang pahlawan cilik tersebut. Lantas beliau bersabda, “Kalian berdua telah membunuhnya.” (dinukil dari Risalah ila Syababil Ummah, Dr. Raghib As- Sirjani)
Catatan: dalam beberapa riwayat disebutkan, bahwa Muadz yang dimaksud adalah Muadz bin Afra’.- Wallahu a’alam- [AH]

Muadz & Muawwidz bin Afra’ Radiyallahu ‘anhuma, 2 Remaja Eksekutor Penghina Rasulullah

Monday, May 18, 2015


SOLO (Panjimas.com) – Kota Solo Jawa Tengah (Jateng) biasanya sangat ramai sekali oleh manusia yang berjalan kaki pada saat hari Ahad pagi ketika berlangsung acara Car Free Day (CFD) di sepanjang Jalan Slamet Riyadi.
Namun kali ini, suasana sangat berbeda sekali terlihat disekitar wilayah Kota Barat (Kobar) hingga Bundaran Gladak pada Sabtu (16/5/2015) pagi yang berada diantara Jalan Slamet Riyadi tersebut. Suasana yang sangat berbeda di hari Sabtu pagi itu terlihat karena umat Islam dari berbagai macam elemen Islam, majelis taklim dan Ponpes di Solo Raya sedang mengikuti acara Parade Tauhid.
Parade Tauhid dan pawai akbar yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Solo, DSKS dan hampir seluruh elemen Islam di Solo Raya di sepanjang Jalan Slamet Riyadi itu dibanjiri umatt Islam se-Solo Raya. Dari pantauan langsung Panjimas.com, sekitar 100.000 umat Islam turut serta dalam acara tersebut.
Acara Parade Tauhid yang dijadwalkan akan dimulai pada pukul 07.00 WIB sedikit molor hingga pukul 07.30 WIB karena menunggu kedatangan Ketua MTA Pusat, ustadz Drs Ahmad Sukina. Ustadz Sukina yang rencananya menunggu di panggung utama Parade Tauhid di Bundaran Gladak akhirnya memilih ikut serta dalam rombongan dengan berjalan kaki dari Lapangan Kota Barat (Kobar) hingga finish di Bundaran Gladak.
Parade Tauhid dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan 1436 H yang merupakan acara pertama kali di Kota Solo, dan bahkan di Indonesia itu dibuka secara simbolis dengan bentuk pengibaran bendera tauhid oleh Ketua MUI Pusat Prof Dr dr Zaenal Arifin Adnan, Ketua DSKS ustadz DR Muinudinnillah Basri MA, ustadz Ahmad Sukina dan sejumlah tokoh Islam Solo Raya lainnya yang hadir di jalan Kota Barat.
Setelah pengibaran bendera tauhid sebagai bentuk simbolis dibukanya acara Parade Tauhid tersebut, para tokoh Islam kemudian berjalan kaki menyusuri Jalan Slamet Riyadi menuju Bundaran Gladak yang diikuti ratusan ribu umat Islam yang berada di belakang. (Baca: Ikutilah Parade Tauhid Sambut Ramadhan 1436 H di Solo Besok Sabtu Pagi 16 Mei 2015)
Sedangkan didepan para tokoh Islam adalah rombongan pasukan berkuda dari Ponpes Isy Karima Karanganyar, pasukan berkuda dari Hizbullah Sunan Bonang, Voraider dari Satgas MTA, Voraider dari Hizbullah Sunan Bonang, 2 mobil Jeep milik Hizbullah Sunan Bonang, dan yang paling depan adalah 2 mobil pengamanan dari Polresta Solo.
Saat menyusuri Jalan Slamet Riyadi, ratusan ribu umat Islam tak henti-hentinya menyuarakan kalimat tauhid. Mereka juga tak henti-hentinya menggemakan asma Allah dan nama Rasulullah SAW dalam Parade Tauhid tersebut.
Selain itu, spanduk berukuran kecil, sedang dan bahkan besar juga ikut meramaikan jalannya Parade Tauhid tersebut. Tulisan yang ada didalam spanduk juga beraneka ragam. Salah satunya adalah tulisan, “Genggam Tauhid Sampai Mati”, lalu tulisan “Murnikan Tauhid Sambut Bulan Suci Ramadhan 1436 H”. Intinya, sejumlah spanduk tersebut menggambarkan suka cita kaum Muslimin dalam menyambut bulan suci Ramadhan.
Spanduk tauhid yang dikatakan panitia dari DSKS sebagai spanduk terpanjang didunia juga menghiasai Parade Tauhid tersebut. Spanduk sepanjang 2,5 km tersebut berada di sisi kiri atau sebelah selatan Jalan Slamet Riyadi, dan dibawa oleh umat Islam dengan berjalan kaki.
Ada yang menarik dalam acara Parade Tauhid kali ini. Pada saat rombongan awal para ustadz dan tokoh Islam Solo Raya sudah sampai di panggung utama Parade Tauhid di Bundaran Gladak, ternyata masih ada rombongan umat Islam yang belum berangkat dari Kota Barat.
Bahkan pada saat acara orasi dimulai, ada juga umat Islam yang baru berangkat dari Lapangan Kota Barat. Sehingga pada saat orasi para tokoh Islam dimulai, umat Islam yang mengikuti Parade Tauhid tersebut posisinya masih berada sangat jauh dari panggung utama Parade Tauhid di Bundaran Gladak.
Acara Parade Tauhid ini diakhiri dengan penegakkan bendera tauhid berukuran 3 X 4 meter yang dipasang di sebuah bambu cukup panjang, dan dibawa secara bersama-sama oleh perwakilan elemen Islam yang hadir sebagai bentuk simbolis keinginan umat Islam Solo Raya untuk tegaknya kalimat tauhid di Indonesia.
Pada saat acara penegakkan bendera tauhid tersebut juga diiringi dengan pembacaan doa dari sesepuh dan tokoh Islam Solo Raya yang juga pimpinan Ponpes Al Mukmin Ngruki Solo, KH Wahyudin. Dalam doanya, KH Wahyudin juga mendoakan kemenangan kepada para mujahidin dimanapun mereka berada dalam melawan musuh-musuh Islam. KH Wahyudin juga mendoakan kehancuran musuh-musuh Islam. [GA]

Ratusan Ribu Umat Islam Banjiri Jalan Slamet Riyadi Solo Dalam Acara Parade Tauhid

Umat Islam Harus Saling Membantu & Memperkuat Diri Dalam Masa-Masa Sulit
ISLAMABAD (Panjimas.com) – Syaikh Khalid Al Ghamidi memberikan nasehat yang sangat penting kepada umat Islam. Syaikh Al Ghanidi menyerukan agar seluruh umat Islam saling membantu dan memperkuat diri di tengah gempuran dari musuh-musuh Islam.
“Umat Islam adalah pengikut satu agama dan Allah SWT. Mereka harus saling membantu dalam masa-masa sulit,” seru Syaikh Al Ghamidi saat memimpin shalat Jum’at di Masjid Faisal di Islamabad, Pakistan, pada Jum’at (1/5/2015) dilansir Pakistan Today.
Syaikh Al Ghamidi menjelaskan, karena Islam adalah agama terbaik di dunia yang mengajarkan persatuan, harmoni, cinta dan persaudaraan, maka sudah selayaknya umat Islam yang mempelopori adanya persatuan.
Ia melanjutkan,  kekuatan eksternal musuh Islam saat ini diuntungkan dari perbedaan pendapat di kalangan umat Islam. Maka, Syaikh Al Ghamidi mengajak umat Islam untuk kembali kepada ajaran Nabi Muhammad  SAW agar selalu menggenggam erat ajaran Islam sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah.
“Keberhasilan kita di dunia ini dan akhirat terletak pada pengajaran Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW,” tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Syaikh Al Ghamidi juga mendoakan terwujudnya perdamaian dunia, kemakmuran Pakistan, dan seluruh umat Islam. [GA/ROL]

Umat Islam Harus Saling Membantu & Memperkuat Diri Dalam Masa-Masa Sulit

Pesan Penyemangat Buya Hamka & M Natsir: Jangan Takut Menegakkan Syari’at Islam
(Panjimas.com) – Isu Negara Islam, radikalisme dan terorisme yang ditayangkan hampir setiap hari di media massa nasional setidaknya mampu membentuk opini di masyarakat, khususnya mereka yang awam terhadap gerakan Islam, untuk mencurigai setiap hal yang berkaitan dengan aktivitas keislaman.
Di kampung-kampung, pasca hebohnya pemberitaan setiap gerakan Islam, masyarakat menaruh kecurigaan terhadap gerakan-gerakan yang selama ini menuntut diberlakukannya sistem Islam dalam pemerintahan, menyuarakan tegaknya syari’at Islam, dan menuntut dihentikannya kedzaliman global yang dipertontonkan Amerika Serikat (AS) dan sekutu-sekutunya.
Apalagi, dalam pemberitaan tersebut selalu digambarkan bahwa mereka yang terlibat dalam terorisme menggunakan atribut-atribut seperti bendera bertuliskan kalimat syahadat , jilbab panjang dan bercadar bagi perempuan, celana cingkrang, berjanggut dan jidat hitam bagi laki-laki.
Tak hanya itu, isu tersebut juga “sukses” membuat aktivis Islam sibuk menangkis tudingan bahwa mereka bukan bagian dari gerakan Islam yang terlibat Terorisme. Klarifikasi terhadap tudingan bahwa mereka bukan bagian dari terorisme sah-sah saja. Tapi, setidaknya klarifikasi itu tidak diiringi dengan kata-kata yang terkesan sok dan arogan, dengan mengatakan bahwa gagasan negara Islam adalah “ide kampungan”.
Katakanlah jika tidak setuju dengan ide negara Islam atau label negara Islam, setidaknya tak perlu mengeluarkan kata-kata yang terkesan arogan dan merasa paling paham soal konsep bernegara. Apalagi, isu ini kuat dugaan adalah rekayasa intelijen yang ingin memberangus ide-ide Islam.
Saat ini, umat dihadapkan pada elit-elit politik Islam yang terkesan mengidapinferiority complex alias minder dengan identitas Islam. Mereka, para politisi yang menyatakan berasal dari “partai Islam” selalu mengelak jika dituding ingin menegakkan syari’at Islam. Seolah-olah syari’at Islam adalah momok menakutkan dan sebuah boomerang yang bisa menghancurkan karir politiknya, merusak reputasinya, bahkan menghambat laju popularitasnya.
Islam tak lagi dianggap sebagai identitas yang menjual dalam panggung politik. Karena itu bagi mereka, politik identitas atau politik aliran sudah ketinggalan zaman. Ironisnya, koor para politisi Islam itu disambut meriah oleh para politisi dan pengamat politik sekuler dan liberal.
Atas nama persatuan dan kesatuan, siasat politik dan toleransi, banyak elit-elit politik Islam yang menghindar jika dituding sebagai bagian dari kelompok yang mempunyai agenda penegakkan syari’at Islam dalam konteks berbangsa dan bernegara. Seolah-olah “cap” sebagai penegak syari’at Islam akan melunturkan citra politiknya dan membuatnya terasing dari pentas politik.
Terkait dengan hal ini, Allahyarham Mohammad Natsir, tokoh Partai Masyumi menyatakan:
“Orang yang tidak mau mendasarkan negara itu kepada hukum-hukum Islam dengan alasan tidak mau merusakkan hati orang yang bukan beragama Islam, sebenarnya (dengan tidak sadar atau memang disengaja) telah berlaku dzalim kepada orang Islam sendiri yang bilangannya di Indonesia 20 kali lebih banyak, lantaran tidak menggugurkan sebagaian dari peraturan-peraturan agama mereka (agama Islam). Ini berarti merusakkan hak-hak mayoritas, yang sama-sama hal itu tidak berlawanan dengan hak-hak kepentingan minoritas, hanya semata-mata lantaran takut, kalau si minoritas itu “tidak doyan”. Ini namanya “staatkundige”, demokrasi tunggang balik”.
Nasehat bagi mereka yang “takut atau terkesan malu-malu” untuk menegakkan syari’at Islam juga disampaikan oleh Allahyarham Buya Hamka. Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menyatakan:
“Sebagai Muslim, janganlah kita melalaikan hukum Allah. Sebab, di awal surah Al Maa-idah sendiri yang mula-mula diberi peringatan kepada kita ialah supaya menyempurnakan segala ‘uqud (janji). Maka, menjalankan hukum Allah adalah salah satu ‘uqud yang terpenting diantara kita dengan Allah. Selama kita hidup, selama iman masih mengalir di seluruh pipa darah kita, tidaklah boleh sekali-kali kita melepaskan cita-cita agar hukum Allah tegak di dalam alam ini, walaupun di negeri mana kita tinggal. Moga-moga tercapai sekadar apa yang kita dapat capai. Karena Tuhan tidaklah memikulkan beban kepada kita suatu beban yang melebihi dari tenaga kita. Kalau Allah belum jalan, janganlah kita berputus asa. Dan kufur, dzalim, fasiklah kita kalau kita pecaya bahwa ada hukum yang lebih baik daripada hukum Allah”.
“Jika kita yang berjuang menegakkan cita Islam ditanya orang, ‘Adakah kamu, hai umat Islam bercita-cita, berideologi, jika kamu memegang kekuasaan, akan menjalankan hukum syariat Islam dalam negara yang kamu kuasai itu? Janganlah berbohong dan mengolok-olokkan jawaban. Katakan terus terang, bahwa cita-cita kami memang itu. Apa artinya iman kita kalau cita-cita yang digariskan Tuhan dalam Al-Qur’an itu kita pungkiri?”.
“Dan kalau ditanya orang pula, tidaklah demikan dengan kamu hendak memaksakan agar pemeluk agama lain yang digolongkan kecil (minoritas) dipaksa menuruti hukum Islam? Jawablah dengan tegas, “Memang akan kami paksa mereka menuruti hukum Islam. Setengah dari hukum Islam terhadap golongan pemeluk agama yang minoritas itu ialah agar mereka menjalankan hukum Taurat, ahli Injil diwajibkan menjalankan hukum Injil”.
“Kita boleh membuat undang-undang menurut teknik pembikinannya, memakai fasal-fasal dan ayat suci, tapi dasarnya wajiblah hukum Allah dari Kitab-kitab Suci, bukan hukum buatan manusia atau diktator manusia”.
“Katakan itu terus terang, dan jangan takut! Dan insaflah, bahwa rasa takut orang menerima hukum Islam ialah karena propaganda terus menerus dari kaum penjajah selama beratus tahun. Sehingga, orang-orang yang mengaku beragama Islam pun kemasukan rasa takut itu…”. (Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz 6)
Demikian nasihat M Natsir dan Buya Hamka.
Sebagai umat Islam, apalagi aktivis Islam, kita harus percaya diri bahwa Islam-lah yang cukup dan cakap sebagai aturan dalam mengelola bangsa ini. Apalagi, cita-cita para as-saabiqunal awwalun bangsa ini dalam memerdekaan negeri ini adalah agar hukum Islam bisa ditegakkan, bukan hukum buatan manusia apalagi hukum buatan kolonial.
Cita-cita menegakkan Islam harus terus disuarakan dan diperjuangkan. Karena, perjuangan menegakkan syari’at Islam adalah perjuangan akidah, bukan perjuangan tawar menawar yang bisa dikompromikan.
“Adalah satu hal yang sangat tidak bisa diterima akal; mengaku diri Islam, mengikut perintah Allah dalam hal sembahyang (shalat) tetapi mengikuti teori manusia dalam pemerintahan…,” demikian ujar Buya Hamka. [GA/aw/IP]

Pesan Penyemangat Buya Hamka & M Natsir: Jangan Takut Menegakkan Syari’at Islam


JAKARTA (Panjimas.com) – Mungkin hal ini adalah kejadian yang pertama kali dalam sejarah Indonesia. Dalam peringatan Isra’ Mi’raj 1436 H di Istana Negara, atau Istana yang digunakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Jum’at (15/5/2015) malam ada sesuatu yang berbeda dalam pembacaan tilawah Al-Qur’an.
Pembacaan Al-Qur’an yang biasanya dilantunkan sesuai dengan kaidah Islam baik dari segi tajwid dan logat Arab, namun dalam peringatan Isra’ Mi’raj 1436 H di Istana Negara itu dilantunkan dengan lagu Dandang Gulo berupa langgam jawa.
Hal inipun mendapat tanggapan, kritikan dan kecaman dari sejumlah pihak. Bahkan cara membaca Al-Qur’an yang dikatakan Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Syaifuddin sebagai Langgam Nusantara itu dianggap sejumlah tokoh Islam sebagai bentuk pelecehan terhadap Islam.
“Cara baca Al-Qur’an seperti yg di lakukan di Istana Negara saat acara Isra’ Mi’raj kemarin tidak boleh terjadi lagi dan harus dihentikan,” tegas Dr Ahmad Annuri MA, Doktor dibidang Al-Quran Departemen pengkaderan Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia (DDII) Pusat pada Sabtu (16/5/2015).
Dr Ahmad mengatakan bahwa hal itu termasuk Takalluf atau emaksakan untuk meniru lagu yang tidak lazim dalam membaca Al-Qur’an, dan yang paling fatal ketika ada kesalahan niat. Yaitu merasa perlu menonjolkan citra rasa lagu kenusantaraan atau ke-Indonesiaan dalam membaca Al-Qur’an, membangun sikap Hubbul Wathoniyyah yang salah, seolah bahwa lagu Nusantara untuk baca Qur’an adalah sesuatu yang layak dan sah-sah saja.
Selain itu, cara membaca Al-Qur’an yang dilantunkan di Istana Negara oleh Muhammad Yaser Arafat dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut juga bisa merusak kelaziman dalam membaca Al-Qur’an.
“Sementara cara baca Al-Qur’an seperti itu akan merusak kelaziman. Muncul sebuah pertanyaan, bagaimana kalau lagu kebangsaan Indonesia saat acara kenegaraan diganti dengan langgam atau irama suku Jawa atau suku yang lain? Apakah orang Indonesia terima?,” tanyanya. [GA]

Presiden Jokowi Dinilai Lecehkan Islam di Istana

 
BERITA TERNATE SINCE 1432 H